ABSTRAK
Filsafat metafisika yang mengajak kita untuk memikirkan sesuatu yang ada dengan sedalam-dalamnya akan mengarahkan kita untuk mengetahui sesuatu yang ada. Pemikiran tentang hakikat yang ada menyebabkan orang tidak gampang percaya begitu saja terhadap apa yang ada. Orang akan berusaha untuk tidak hanya mengetahui lewat pancaindera atau lewat pengetahuan ilmiah tetapi ingin mengetahui hal yang universal dan radikal dari apa yang ada tersebut. Filsafat metafisika mengarahkan kepada kesadaran tentang kedudukan manusia baik sebagai pribadi, makhluk sosial dan hubungannya dengan alam sekitarnya dan Tuhan. Pendidikan adalah suatu kegiatan mengandung tujuan. Tujuan pendidikan mempertanyakan,manusia bagaimana diharapkan, yang akan dibina melalui pendidikan ? Dalam kaitannya dengan metafisika , pendidikan mengemukakan pertanyaan metafisika seperti; apa sifat atau fitrah peserta didik? Apakah manusia dapat dididik? Sejauh mana kebebasan diberikan atau dapat diberika kepada peaerta didik untuk memilih kebutuhan belajarnya? Apa difat masyarakat? Apa hakikat pendidikan? Bagaimana hubungan peserta didik dan pendidik dengan masyarakat atau lingkungan hidupnya? Apakah pendidikan itu untuk membentuk jasmani yang kuat semata-mata, atau untuk pembentukan rohani semata-mata, atau kedua-duanya, jasmani dan rohani?. Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan semacam itu, yang mencerminkan betapa erat hubungan pendidikan dengan metafisika. Key Word : filsafat, metafisika, pendidikan PENDAHULUAN Istilah metafisika berasal dari bahasa Yunani yaitu meta ta physika. Yang berarti sesudah fisika. Istilah ini merupakan judul buku yang ditulis oleh Aristoteles. Aristoteles sendiri tidak menggunakan istilah metafisika, melainkan filsafat pertama. Istilah metafisika sebagai ilmu tentang yang ada sering juga disebut ontologi. Hakekat metafisika adalah hakikat realita, menjangkau sesuatu di balik realita. Realita dalam hal ini berbeda dengan menerti realita pengalaman tetapi mengerti sedalam-dalamnya realita yang ada.Filsafat, khususnya filsafat metafisika merupakan hal yang tidak terlepas dari kehidupan manusia. Jika diibaratkan kehidupan ini adalah sebuah perjalanan maka akan timbul pertanyaan dari mana asal perjalanan ini dan kemana tujuan perjalanan tersebut. Dalam mengarungi perjalanan ini banyak orang tidak mengetahui dengan pasti dari mana dia berasal dan kemana tujuannya, tetapi yang pasti orang menyadari bahwa kita sedang berjalan, berjalan dalam ketidakpastian. Hidup ini adalah sebuah pencarian yang abadi. Metafisika sebagai sistem filsafat bertolak dari rasa heran yang didapat manusia sepanjang kehidupannya. Dari keheranan itu manusia mengajukan pertanyaan yang universal : Siapa
92
aku?, Darimana aku datang?, Kemana aku pergi? Dan sebagainya yang berusaha untuk mengetahui hakekat keberadaannya. Dengan berfilsafat metafisika, orang lain mengetahui sedalam-dalamnya apa yang ada dibalik yang nyata. Hal ini akan membangkitkan sifat kritis dan radikal terhadap sesuatu yang ada. Whitehead (dalam Sudarminta, 1994:48) menegaskan bahwa filsafat metafisika atau disebut juga filsafat spekulatif sangat penting untuk memberi suatu pandang yang bersifat sintetis dan menyeluruh atas realitas. Hal ini disebabkan oleh adanya kecenderungan realitas dewasa ini yang terpecah-pecah atau tefragmintasikan akibat arus spesialitas yang membuat komunikasi antara disiplin sulit dilakukan. Untuk itu dibutuhkan suatu rumusan realitas yang bersifat integratif. Cara berfikir mentafisis dapat saja dikembangkan dengan mengingat bahwa setiap manusia memiliki rasa ingin tahu terhadap realitas yang ada. Dalam dunia pendidikan tentu saja keingintahuan terhadap sesuatu yang ada dibalik yang ada akan melahirkan penjelajahan terhadap akibat yang ada tersebut. Pendidikan sebagai salah satu objek kajian filsafat telah menjadi sesuatu yang ada yang selalu ingin dipahami hakikat beberadaannya. Ketidakpuasan terhadap konsep yang ada membuat banyaknya konsep-konsep pendidikan yang dikemukakan oleh para ahli maupun para pemikir di bidang pendidikan. Konsep pendidikan yang dikemukakan oleh para tokoh pendidikan dari waktu kewaktu mengalami banyak perubahan sesuai dengan perkembangan jaman, tetapi pendidikan itu sendiri sebagai objek material tetapi tidak berubah. Perbedaan konsep merupakan akibat dari perbedaan sudut pandang dalam melihat keberadaan itu sendiri. Pandangan metafisika merupakan masalah utama dalam pendidikan. Hal ini disebabkan karena anak dengan pergaulannya dengan dunia dan lingkungannya akan mempunyai dorongan yang kuat untuk mengerti sesuatu. Anak-anak baik disekolah maupun dirumah tetangganya selalu menghadapi realita dan objek pengalaman baik itu realita tentang kehidupan dan kematian, eksistensi manusia, realita alam semesta, bahkan kepada ekstensi tuhan. Untuk memahami realitas dari dunia yang nyata ini, anak-anak membutuhkan bimbingan untuk dapat menyadari akan kebenaran yang ada dibalik realita tersebut. Dalam hal ini para pendidik berkewajiban untuk membina potensi anak untuk berfikir kritis terhadap kenyataan yang dihadapinya. Implikasi pandangan metafisis ini dalam pendidikan adalah bahwa dunia pengalaman manusia yang harus memperkaya kepribadian bukanlah hanya alam raya dan isinya, melainkan sesuatu yang tak terbatas, realitas fisis, yang tetap dan yang dinamis, juga sistem kesemestaan yang melahirkan perwujudan harmoni dalam alam semesta. HUBUNGAN FILSAFAT METAFISIKA DENGAN PENDIDIKAN Immanuel Kant (dalam Sahabuddin, 1997:171) menyatakan sebuah pertanyaan yang sangat erat hubungannya dengan pendidikan yaitu “apa yang boleh saya hadapkan?”. Pertanyaan ini adalah pertanyaan metafisis yang mengandung harapan yang ingin dicapai. Untuk mencapai harapan yang diinginkan. Pendidikan adalah cara yang sangat dibutuhkan untuk mewujudkannya. Pendidikan sebagai usaha yang sistematik terarah kepada perubahan perilaku menuju tercapainya tujuan yang diinginkan. Dengan adanya tujuan yang ingin dicapai akan menimbulkan banyak pertanyaan yang sifatnya metafisis tentang keberadaan komponen-komponen yang berkaitan dengan tujuan tersebut. Manusia yang bagaimana yang diharapkan dapat di didik. Apa sifat dan hakikat peserta didik? Dan banyak lagi pertanyaan metafisika yang mengarah kepada hakikat pendidikan itu sendiri. Hal ini menandakan pentingnya filsafat metafisika dalam pengembangan pendidikan.
93
Filsafat metafisika yang mengajak kita untuk memikirkan sesuatu yang ada dengan sedalam-dalamnya akan mengarahkan kita untuk mengetahui sesuatu yang ada. Pemikiran tentang hakikat yang ada menyebabkan orang tidak gampang percaya begitu saja terhadap apa yang ada. Orang akan berusaha untuk tidak hanya mengetahui lewat pancaindera atau lewat pengetahuan ilmiah tetapi ingin mengetahui hal yang universal dan radikal dari apa yang ada tersebut. Sehubungan dengan hal di atas, Muhammad Iqbal (dalam Saiyidain, 1982:46) memperingatkan kepada pembaca karya-karyanya agar tidak terhinggapi kejemuan intelektual dan secara terus menerus berusaha menguasai bidang dan kawasan baru dalam dunia pendidikan. Iqbal mengajak pembacanya agar tidak gentar menghadapi lajunya kebebasan fikiran. Ungkapan Iqbal ini dinyatakan dalam karyanya berupa syair. Dia juga menyarankan agar orang tidak begitu saja percaya terhadap apa yang ada, pengembangan sikap intelektual lebih penting daripada pengajaran yang bersifat tradisional yang mementingkan ingatan serta cara belajar yang pasif. Peringatan Iqbal ini diungkapkan dalam salah satu syairnya : Akankah kau angguhkan saja kepala Pada kicauan burung bayan budiman? Janganlah kau begitu percaya Coba belajar barang sedikit meragu! Syair di atas mengandung makna bahwa sasaran pendidikan intelektual seharusnya membangkitkan sikap kritis dan radikal, terus bertanya dan bertanya dan tidak begitu saja percaya atau menerima suatu pandangan atas dasar kepercayaan belaka. Menurut pandangan ini, kepenasaranan dan pencairan kebenaran lebih penting daripada kebenaran itu sendiri. Dari uraian di atas jelas bahwa ide-ide filsafat metafisika sangat berperan penting dalam kemajuan pendidikan. Dengan ketidakpuasan terhadap apa yang ada membuat orang terus mencari dan mencari keterangan yang sedalam dalamnya dari sesuatu yang ada. Pertanyaan metafisis seperti “dari apa dunia ini terbuat?” membuat orang yang ingin mencari jawabannya dengan menemukan penemuan baru dalam bidang ilmu dan teknologi. Lahirnya teori atom merupakan hasil pemikiran metafisis yang dijawab dengan penyelidikan yang akhirnya melahirkan teknologi penggunaan atom. Jawaban dari pertanyaaan metafisis dari apa dunia ini terbuat berkembang sampai sekarang yang dewasa ini sudah berkembang dengan adanya teknologi nuklir sebagai akibat ketidakpuasan terhadap jawaban bahwa unsur terkecil dari alam ini adalah atom. Ketidakpuasan ini akhirnya mendapat jawaban setelah ditemukan bahwa atom itu masih tersusun dari benda-benda yang lebih kecil yang disebut proton dan neutron. Hasil dari penemuan ini adalah pengembangan teknologi nuklir. Sumbangan Metafisika terhadap Pendidikan Apa yang boleh saya harapkan, demikian Prof. Dr. Sikun Pribadi menguntip pertanyaan yang dikemukakan oleh Immanuel Kant, pertanyaan yang menyangkut masalah METAFISIKA, masalah hakikat dunia dan inti ajaran agama. Pertanyaan “apa yang dapat diharapkan” juga adalah pertanyaan yang terdapat dalam pendidikan, karena pendidikan juga mengandung harapan. Prof. Dr. Santoso S Hamidjojo mengemukakan : pendidikan adalah suatu harapan karena harapan itu terletak dalam pendidikan. Pendidikan ada karena dianggap perlu oleh masyarakat untuk menjamin eksistensinya.
94
Pendidikan adalah suatu kegiatan mengandung tujuan. Tujuan pendidikan mempertanyakan,manusia bagaimana diharapkan, yang akan dibina melalui pendidikan ? Dalam kaitannya dengan metafisika , pendidikan mengemukakan pertanyaan metafisika seperti; apa sifat atau fitrah peserta didik? Apakah manusia dapat dididik? Sejauh mana kebebasan diberikan atau dapat diberika kepada peaerta didik untuk memilih kebutuhan belajarnya? Apa difat masyarakat? Apa hakikat pendidikan? Bagaimana hubungan peserta didik dan pendidik dengan masyarakat atau lingkungan hidupnya? Apakah pendidikan itu untuk membentuk jasmani yang kuat semata-mata, atau untuk pembentukan rohani semata-mata, atau kedua-duanya, jasmani dan rohani?. Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan semacam itu, yang mencerminkan betapa erat hubungan pendidikan dengan metafisika. Teori pendidikan dan metafisika praktis menghasilkan diskusi pertanyaan-pertanyaan yang jawaban ilmiahnya kurang. Misalnya pertanyaan fisika, apakah hidup manusia mempunyai tujuan? Jika mempunyai tujuan, tujuan apa saja? Jika demikian, apakah tersirat dalam studi evolusi biologi? Jika seorang siswa menyimpulkan dari studi evolusinya bahwa alam semesta tidak mempunyai tujuan, ia dapat menyimpulkan bahwa hidupnya hanya berarti kalau ia secara pribadi menempatkan makna kedalamnya. Dalam hal ini harus menanya dirinya sendiri, tujuan apa dalam hidupnya yang harus diikuti. Dengan pertimbangan metafisika mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam ini. Jumlah gagasan metafisika banyak sekali. Namun dapat dikelompokkan menurut aliran pemikiran filsafat tertentu. Aliran utama itu masing-masing mempunyai beberapa bagian, yaitu : idealisme, realisme, rasionalisme, empirisme, dan pragmatisme. Jika kita mempertimbangkan apa yang dikemukakan oleh aliran-aliran ini tentang sifat realita dalam hubungannya dengan pendidikan, kita akan mampu memikirkan lebih jelas mengenai pertanyaan kita sendiri. Pengelompokan filsafat kedalam aliran-aliran pemikiran dimaksud hanya sebagai alat, untuk memudahkan pengertian. Pengelompokan itu sering tumpang tindih biasanya pula filosof-filosof itu sealiran, tetapi bertentangan pendapatnya terhadap suatu objek misalnya aliran eksistensialisme, ada yang religius dan ada yang atheis. Akhirnya dapat disimpulkan bahwa kehadiran metafisika dalam pendidikan bukanlah insidentil, tetapi pemikiran kontinyu, bukan peristiwa kebetulan, tetapi suatu direncanakan, bukan suatu keharusan. PENDIDIKAN SEBAGAI SALAH SATU OBJEK KAJIAN METAFISIKA Metafisika sebagai „ilmu‟ yang merupakan usaha rasional yang objektif, sistematis dan bermetodologis ingin mengungkapkan kenyataan kehidupan. Seperti ilmu lainnya yang selalu didalamnya terdapat pertanyaan sekaligus jawaban dari sesuatu yang ada maka metafisika merupakan pertanyaan mengenai semua yang ada dan juga ingin memberi penjelasan terhadap sesuatu yang ada. Objek material metafisika adalah sesuatu yang ada dalam artian semua realitas atau apa saja yang ada. Metafisika berkaitan dengan semua realitas dalam bentuk baik, bentuk secara inderawi maupun tidak. Objek matafisika adalah yang ada yang bersifat universal. Pendidikan sebagai objek material metafisika dilihat sebagai suatu yang ada yang bersifat universal karena menyangkut suatu realitas.
Hasil-hasil pertanyaan-pertanyaan metafisis terhadap pendidikan sabagai suatu realitas melahirkan munculnya sebagai konsep pendidikan yang dikemukakan oleh para tokoh pendidikan. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul adalah pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan tepat secara ilmiah. Misalnya, apa tujuan pendidikan itu?, apa pendidikan
95
itu sebenarnya?, apa manusia bisa dididik?, untuk apa manusia dididik?. Pertanyaan-pertanyaan ini tidak bisa dijawab secara lengkap oleh ilmu pengetahuan sehingga membutuhkan perenungan yang mendalam. Perenungan ini memunculkan pemikiran-pemikiran filosofos terhadap jawaban pertanyaan tersebut. Metafisika sebagai suatu sistem filsafat akan memandang masalah ini sebagai suatu hal yang perlu ditinjau secara radikal dan mendalam dengan mencoba memandang masalah tersebut secara universal yang mengarah kepada hakekat persoalan itu. Pemikiran filosofis adalah pikiran murni yang berusaha mengerti suatu yang ada secara hakiki, sedalam-dalamnya untuk menemukan kebenaran. Sebagai bukti yang dapat kita renungkan bahwa masalah-masalah pendidikan tidak bisa dipahami dan dianalisa hanya dengan menggunakan pengetahuan ilmiah, kita dapat merenungkan jawaban-jawaban terhadap persoalan-persoalan pendidikan berikut ini : Apa sebetulnya pendidikan itu? Yang mana sebetulnya yang dimasud dengan pendidikan? Apakah pendidikan itu berguna terhadap pembinaan kepribadian atau tidak? Apakah potensi keturunan menentukan kepribadian atau faktor-faktor lingkungan? Mengapa ada anak yang berasal dari keturunan baik-baik tidak memiliki kepribadian yang baik? Apa tujuan pendidikan sebenarnya? Apakah pendidikan itu ditujukan kepada peribadi peserta didik atau untuk masyarakat? Apa hakikat dari masyarakat itu? Bagaimana kedudukan peribadi dalam masyarakat? Apakah peribadi itu independent ataukah dependent dalam masyarakat? Untuk mencapai tujuan pendidikan, apakah kurikulum yang digunakan sudah relevan dengan kebutuhan? Pertanyaan-pertanyaan lain yang mengarah kepada hakikat pendidikan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas tidak sepenuhnya dapat dijawab dengan mengandalkan pengetahuan ilmiah tetapi membutuhkan perenungan yang mendalam dan membutuhkan pemikiran filosofis untuk menjawabnya. Filsafat metafisika yang biasa disebut filsafat spekulatif dalam memahami persoalan-persoalan pendidikan seperti di atas terlebih dahulu berusaha mengerti keseluruhan persoalan pendidikan dan mencoba merumuskannya dalam suatu gambaran pokok sebagai pelengkap bagi data-data yang ada dari segi ilmiah. Pemikiran filosofis berusaha mengerti keseluruhan persoalan pendidikan dan antar hubungannya dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pendidikan. Filsafat juga berfungsi sebagai pemadu integratif terhadap perbedaan-perbedaan pandangan keilmuan terhadap persoalan pendidikan yang dihadapi. Dalam dunia pendidikan seorang pendidik harus bijaksana dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan metafisis yang kadang-kadang dipertanyakan oleh peserta didik dalam upayanya mengetahui hakikat dari suatu yang ada. Pertanyaan-pertanyaan metafisis seperti apa hakikat yang ada?, apa hakikat kenyataan dan apa hakikat keberadaan sesuatu itu? Akan memberi arahan kepada orang untuk menemukan suatu gambaran yang universal tentang suatu masalah. Pemahaman universal ini membuat orang tidak hanya memahami suatu masalah dari suatu segi yang sempit tetapi memandang suatu masalah sebagai suatu keseluruhan. Filsafat metafisika ini mengarahkan kita untuk berfikir „holistik‟, yaitu memahami masalah dari berbagai sudut pandang. Dalam dunia pendidikan memberikan sumbangan yang sangat penting dalam membuat suatu kebijakan pendidikan dengan melihat pendidikan tidak secara sempit. SIMPULAN
96
Berdasarkan uraian dalam makalah ini yang membicarakan tentang sumbangan filsafat metafisika terhadap pendidikan, kita dapat menarik kesimpulan sebagai berikut : Pemikiran metafisis dapat memberikan suatu landasan dalam penyusunan program pendidikan. Pemikiran metafisis akan menambah pandangan yang lebih luas terhadap pemahaman terhadap konsep pendidikan. Filsafat metafisika mengarahkan kepada kesadaran tentang kedudukan manusia baik sebagai pribadi, makhluk sosial dan hubungannya dengan alam sekitarnya dan Tuhan. Dengan berfilsafat secara metafisis maka peserta didik dan pendidik akan tidak cepat puas dengan apa yang ada tetapi berusaha untuk mengetahui sesuatu sedalam-dalamnya. Sikap seperti ini akan membawa kepada suatu penemuan baru baik dalam bidang pendidikan maupun bidang ilmu pengetahuan lainnya. Filsafat metafisika menjadi pemandu integrative terhadap perpecahan dalam bidang ilmu yang sulit dikomunikasikan akibat spesialisasi berbagai bidang ilmu. DAFTAR PUSTAKA Cunningsworth, Alan. 1984. Evaluating and Selecting EFL Teaching materials. London: Heinemann Educational Books Ltd. Girant, Neville. 1987. Making the Most of Your Textbook. New York: Longman. Tomlinson, Brian.1998. Materials Development in Language Teaching. New York: Cambridge University Press.
